Aku menulis kata-kata, sebab mereka kerap tidak mengerti apa yang aku katakan dan mereka tidak dapat memahami apa yang tidak aku katakan.
Kata-kata bagus ini sangat berharga bagiku sehingga aku menyimpannya.
Jika aku menyimpannya terlalu banyak, mereka akan jadi kata-kata yang tidak bisa kukatakan lagi.
Tapi aku berharap kata-kata itu bukan kata-kata yang tidak baik, kata-kata tidak berguna, atau kata-kata yang membuatmu sedih.
Aku hidup bersama kata-kata. kadang aku berkata , kadang kata-kata itu mengataiku.
Jangan salah kaprah. Aku tidak gila. Aku hanya lupa usiaku berapa.
Sesaat saja, hanya dua-tiga-empat detik, lalu aku kembali ke 20.
Setiap tahun aku ditanya umurku berapa. Suatu saat akan kusembunyikan berapa. Suatu saat akan kupotong sebagian. Suatu saat aku akan lupa.
Suatu saat umurku akan habis. Kadaluwarsa seperti susu basi. Berhenti pada titik kecil di tengah kekal.
Kematianku akan dipenuhi pita warna putih. Lalu burung-burung menerbangkan kecup dari seratus dua puluh sembilan bibir yang kehabisan kata.
Mereka takkan mengerti kata-kata yang kau ucap, karena kau terlampau sedih. Dan mereka terlampau tak sabar menghitung bulatan air matamu.